KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN

26/09/2018 - 07:59 PM

MOL, dari sekedar LIMBAH dapat menjadi sesuatu yang WAH..

Di Publish Pada : 25/10/2017 | Kategori : OPT

ngeMOL yuk…

Ajakan ini dikhususkan bagi para penggiat organik.

MOL (Mikro Organisme Lokal) satu paket dengan pertanian organik. Bagaikan sayur tanpa garam, pertanian organik tidak akan maksimal tanpa adanya bantuan pasukan makhluk kecil tersebut. MOL menjadi alternatif terbaik dalam pembuatan pupuk organik berupa kompos atau bokashi karena tidak merusak lingkungan.

Mengenal MOL lebih dekat

MOL (Mikro Organisme Lokal) merupakan larutan hasil fermentasi dari kombinasi antara karbohidrat, glukosa, dan mikroorganisme yang diperoleh dari bahan-bahan lokal. Menurut Budiyanto (2002), mikroorganisme berperan dalam mengubah senyawa organik menjadi senyawa anorganik yang berasal dari sisa tanaman dan hewan. Biasanya dalam MOL tidak hanya mengandung satu jenis mikroorganisme tetapi beberapa mikroorganisme diantaranya Rhizobium sp, Azospirillium sp, Azotobacter sp, Pseudomonas sp, Bacillus sp dan bakteri pelarut phospat.

Keunggulan MOL antara lain:

  • Murah karena memanfaatkan bahan-bahan lokal
  • Mudah karena tidak memerlukan alat/teknik yang rumit
  • Memiliki kandungan nutrisi tinggi
  • Mudah dimodifikasi sesuai kondisi setempat

MOL bermanfaat sebagai perombak bahan organik (dekomposer), perangsang pertumbuhan tanaman/fitohormon (auksin,giberelin, dan sitokinin), dan sebagai agens pengendali OPT (pestisida organik). Beberapa jenis dan manfaat produk MOL yang telah banyak digunakan petani, diantaranya:

  1. MOL daun gamal sebagai penyubur daun tanaman
  2. MOL bonggol pisang, keong mas/bekicot, cacing, dan rayap dapat mempercepat pengomposan
  3. MOL sayuran dapat merangsang pembuahan malai padi
  4. MOL rebung bambu dapat merangsang pertumbuhan
  5. MOL protein untuk nutrisi tambahan pada ternak
  6. MOL nimba maupun MOL air cucian beras dapat mencegah hama ulat, nematoda, cendawan Fusarium sp., dan Sclerotium sp. (Maspary 2010).

Pembuatan MOL

MOL dapat dibuat sendiri oleh petani atau praktisi pertanian untuk meningkatkan produksi tanaman. Pembuatannya pun sangat mudah dan murah, sehingga tidak perlu cari ke mall untuk bisa membuat MOL. Bahan dasar untuk fermentasi larutan MOL dapat berasal dari limbah hasil pertanian, perkebunan, maupun limbah organik rumah tangga, asalkan mengandung 3 (tiga) komponen utama yaitu karbohidrat, glukosa, dan mikroorganisme.

  • Karbohidrat sebagai sumber nutrisi untuk mikroorganisme dapat diperoleh dari limbah organik seperti air cucian beras, singkong, gandum, rumput gajah, dan daun gamal. 
  • Sumber glukosa berasal dari cairan gula merah, gula pasir, dan air kelapa
  • Sumber mikroorganisme berasal dari kulit buah yang sudah busuk, terasi, keong mas, nasi basi, dan urin sapi (Hadinata, 2006).

Bahan andalan “unik” dalam MOL

1. Air cucian beras

Penggunaan air cucian beras dalam resep ramuan MOL bukan tanpa alasan. Warna keruh bekas cucian beras menunjukkan bahwa lapisan terluar dari beras ikut terkikis. Meskipun banyak nutrisi yang telah hilang, namun pada bagian kulit ari masih terdapat sisa-sisa nutrisi yang sangat bermanfaat, seperti fosfor (P), salah satu unsur utama yang dibutuhkan tanaman dan selalu ada dalam pupuk majemuk tanaman semisal NPK. Fosfor berperan dalam memacu pertumbuhan akar dan pembentukan sistem perakaran yang baik dari benih dan tanaman muda. Nutrisi lainnya adalah zat besi yang penting bagi pembentukan hijau daun (klorofil) juga berperan penting dalam pembentukan karbohidrat, lemak dan protein. Selain itu kulit ari juga mengandung vitamin, mineral, dan fitonutrien yang tinggi. Vitamin sangat berperan dalam proses pembentukan hormon dan berfungsi sebagai koenzim (komponen non-protein untuk mengaktifkan enzim). Nurhasanah (2012) mengungkapkan bahwa air cucian beras merupakan media alternatif untuk bakteri Pseudomonas fluorescens. Bakteri tersebut adalah mikroba yang berperan dalam pengendalian patogen penyebab penyakit karat dan memicu pertumbuhan tanaman.

2. Keong mas/bekicot

Penggunaan keong mas/bekicot ini pun memiliki misi untuk mengurangi populasinya di alam, karena kerap dianggap hama. Selain itu, hewan berumah cangkang ini merupakan salah satu sumber bakteri dalam menyukseskan ramuan MOL.

Potensi keong emas sebagai bahan bakteri MOL, keong mas betina menghasilkan 15 kelompok telur (1 kelompok = ± 400 butir telur) selama satu siklus hidup.

 

Contoh resep sederhana dalam membuat MOL

(Petlap Pengembangan Desa Organik 2016)

1. MOL Pengomposan buah-buahan

Bahan :

a. Buah-buahan yang “kelewat matang” (overripe) 5 kg

b. Air kelapa dari 10 butir kelapa

c. Gula jawa 1 kg

Cara membuat:

a. Limbah buah-buahan dihaluskan. Bisa dengan cara ditumbuk atau diparut, kemudian dimasukkan ke dalam wadah (drum)

b. Ke dalam wadah ditambahkan air kelapa dan gula

c. Semua bahan diaduk sampai tercampur rata

d. Drum ditutup, beri lubang untuk aerasi. Lubang aerasi ini bisa menggunakan selang agar tidak dimasuki oleh lalat atau serangga lain.

e. Semua bahan kemudian difermentasikan selama 2 minggu sebelum digunakan

Cara penggunaan:

a. MOL ini bisa digunakan untuk pengomposan maupun untuk penyemprotan ke tanaman.

b. Untuk pengomposan dapat dilakukan dengan cara mengencerkan larutan fermentasi sebanyak 5 kali dari volume awal kemudian disemprotkan ke bahan-bahan yang akan dikomposkan.

c. Untuk penyemprotan tanaman dilakukan dengan cara melarutkan larutan fermentasi 30 kali dari volume awal, kemudian disemprotkan ke permukaan daun pada pagi atau sore hari, dengan interval 2 minggu sekali.

 

2. MOL Dekomposer

Bahan:

a. Bekicot/cacing tanah/ rayap (atau dicampur semuanya)+ bonggol pisang, total 5 kg

b. Cairan molases (0.5 kg gula merah+500 ml air)

c. Air kelapa tua 2 L

d. Air cucian beras 2 L

e. Air bersih 30L

Cara pembuatan:

a. Semua bahan dimasukkan ke dalam wadah/ember.

b. Ke dalam wadah ditambahkan molasses, air kelapa, dan air bersih.

c. Wadah ditutup dan disimpan di tempat teduh selama 14 hari hingga cairan berwarna lebih pekat dan kental.

Cara penggunaan:

2 liter MOL yang sudah mengental karena proses fermentasi dicampur dengan air hingga menjadi 20 liter larutan, kemudian disiram lapis demi lapis pada 1 ton bahan kompos/kotoran ternak).

 

Kemandirian dalam membuat MOL ini turut mendukung konsep rumah tangga zero waste, teknologi beyonic (beyond bio-organik), dan system SRI (System of Rice Intencification). Konsep zero waste rumah tangga berarti mengurangi jumlah sampah rumah tangga dengan memanfaatkan teknologi composting dan daur ulang. Teknologi beyonic yaitu pemanfaatan mikroorganisme untuk meningkatkan produksi pertanian. Konsep SRI dengan pemberian bahan organik pada lahan pertanian dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Semoga, ketiga konsep ini dapat menggugah kesadaran petani dan warga masyarakat dalam mengelola sampah sehingga tercipta lingkungan bersih dan sehat serta memiliki nilai tambah di bidang pertanian organik  (Sulastri et al. 2010).

Ilustrasi pembuatan MOL mulai dari pencacahan bahan, pencampuran, fermentasi, dan formulasi mol yang siap digunakan

 

Penulis : Farriza Diyasti, SP

SUMBER PUSTAKA

Budiyanto, M. 2002. Mikrobiologi Terapan. Universitas Muhammadiyah,  Malang. 159 hal.

Maspary. 2010. Pestisida Organik/Nabati (Nimba sebagai Pengendali Hama Nematoda, Ulat, Jamur, dan Bakteri). Diakses tanggal 30 Januari 2017 pada www.gerbangpertanian.com.

Nurhasanah YS. 2012. Karakterisasi Cendawan Botryodiplodia Theobromae Dan Rhizoctonia Solani Dari Berbagai Tanaman Inang Berdasarkan Morfologi Dan Pola RAPD-PCR [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Sulastri E, Mulyani L, Syaifudin A. 2010. Pemberdayaan Mikroorganisme Lokal Sebagai Upaya Peningkatan Kemandirian Petani. Ringkasan Karya Tulis. 14 hal. Diakses tanggal 7 Oktober 2016 pada http://le3n1.blog.uns.ac.id/files/2010/05/pemberdayaan-mikroorganisme-lokal-sebagai-upaya-peningkatan-kemandirian-petani.pdf

 


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 57
Total pengunjung : 10224

Polling

Survey Kepuasan Website

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Harsono RM No.3, Gedung C Lantai 5, Ragunan - Jakarta Selatan 12550 - Indonesia
Telp. : (021) 7815684 Fax : (021) 7815684. Email : perlinbun@pertanian.go.id