KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN

22/10/2018 - 05:10 AM

Perkebunan Organik Solusi Untuk Masa Depan

Di Publish Pada : 25/10/2017 | Kategori : Desa Pertanian Organik

Potensi Perkebunan di Indonesia sangat besar, tercatat 23.801.766 Ha lahan Perkebunan yang ada di Indonesia  (Buku Statistik Perkebunan 2015), pada sensus pertanian tahun 2013 oleh Biro Pusat Statistik (BPS) jumlah rumah tangga usaha pertanian pekebunan sebanyak 12.770.090 rumah tangga, ironisnya petani pekebun di Indonesia sebagian besar sangat tergantung dan belum  bisa melepaskan diri dari penggunaan pupuk kimia dan pestisida, sehingga bisa  dianalogikan penggunaan pupuk kimia seperti tidak ubahya sebagai suplemen yang secara instan memberi kesuburan. Dalam rentang waktu yang panjang penggunaan pupuk kimia akan semakin memperburuk kondisi kesuburan tanah dan kerentanan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Setali tiga uang, penggunaan pestisida/obat-obatan kimia secara instan dapat dengan cepat mengusir organisme pengganggu tanaman, akan tetapi organisme pengganggu tanaman tersebut lambat laun akan membangun sistim antibodi sehingga kebal terhadap obat-obatan kimia, hal ini akan memancing petani pekebun untuk meningkatkan dosis penggunaan pestisida/obat-obatan kimia secara berlebihan, dampaknya berbagai komoditas olahan hasil perkebunan yang dihasilkan tercemar residu pestisida secara berlebihan dan ini akan dikonsumsi oleh kita semua.

Isu global  yang berkembang saat ini terhadap produk-produk tanaman perkebunan selalu dikaitkan dengan aspek kesehatan, pelestarian lingkungan dan aspek sosial. Saat ini CPO sebagai produk utama dari kelapa sawit sedang di sorot oleh Uni Eropa karena pemakaian herbisida berbahan aktif paraquat, juga komoditas teh  dengan imidaklopritnya.Oleh karena itu strategi pengelolaan tanaman perkebunan yang diusahakan harus selaras dengan tuntutan konsumen tersebut, agar produk yang dihasilkan akan unggul dalam kompetisi di pasaran global.

Perkebunan Organik Sebagai Solusi

Melihat tren perkembangan dunia pangan secara global khususnya komoditas olahan hasil pertanian tak terkecuali komoditas olahan hasil perkebunan yang sudah dikembangkan oleh beberapa negara kompetitor kita, sudah menjadi keharusan apabila usaha tani perkebunan di Indonesia dilakukan secara organik. Perkebunan organik di Indonesia memiliki potensi yang terbilang sangat terbuka lebar, hal ini karena tersedianya berbagai plasma nutfah lokal yang berfungsi sebagai pestisida nabati.

Aplikasi pestisida nabati juga sangat mungkin untuk diterapkan. Pemanfaatan pestisida nabati ini juga sudah tidak asing lagi penggunaannya oleh para petani tradisional pada masa lampau sehingga tugas kita saat ini hanya memacu lagi memori dan gairah petani untuk kembali memanfaatkan pestisida nabati tersebut, seperti misalnya dari tanaman mimba (Azadirachta indica) untuk mengendalikan serangga hama kutu putih dan penggerak buah kopi, srikaya (Annona squa-mosa) untuk menanggulangi serangan aphis, mindi (Melia azedarach L) untuk mengendalikan serangan ulat grayak Spodoptera spp, Spodoptera eridania. tembakau untuk mengusir hama wereng dan lalat buah.

Pemanfaatan limbah perkebunan yang dihasilkan dari kegiatan budidaya (on farm) dan pengolahan hasil (off farm) Berbagai limbah perkebunan tersebut, antara lain : cangkang sawit dan tandan kosong sebagai pakan ternak, seresah dedaunan kopi/kakao yang diolah bersama kotoran ternak untuk menjadi biomassa yang bermanfaat bagi tanaman dan tanah karena dapat memperbaiki sifat fisik/kimia tanah. Manfaat lain dari pengolahan limbah perkebunan jika dikelola dengan baik yaitu akan mengurangi emisi gas CH4, N2O, COx dan CO2 sehingga membantu menurunkan pemanasan global.

Budidaya perkebunan secara organik  memang tidak memberikan reaksi instan pada hasil-hasil perkebunan, akan tetapi dengan pelaksanaan perkebunan organik akan membawa perkebunan berkelanjutan (sustainable) dan memberikan solusi bagi tersedianya bahan pangan yang sehat. Oleh karena itu penerapan perkebunan organik mutlak diterapkan, secara gradual dan sistematis. Para petani sedikit demi sedikit dikurangi ketergantungannya terhadap bahan-bahan kimia, untuk mencapai tujuan tersebut perlu peran aktif berbagai sektor, yaitu : sektor swasta melalui lembaga sertifikasi organik (LSO), perusahaan perkebunan besar, perguruan tinggi dan juga adanya political will dari pemerintah.

Direktorat Jenderal Perkebunan cq. Direktorat Perlindungan Perkebunan memalui program kegiatan pengembangan desa pertanian organik berbasis komoditas  perkebunan berupaya turut serta dalam membangun pondasi pertanian organik di masa depan sehingga kelak petani pekebun kita bisa terlepas ketergantunganya dari pupuk dan pestisida kimia sehingga komoditas olahan turunan hasil perkebunan akan semakin berkualitas dan sehat, semoga.

 

Penulis : Rony Novianto, SP


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 58
Total pengunjung : 12110

Polling

Survey Kepuasan Website

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Harsono RM No.3, Gedung C Lantai 5, Ragunan - Jakarta Selatan 12550 - Indonesia
Telp. : (021) 7815684 Fax : (021) 7815684. Email : perlinbun@pertanian.go.id