KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN

17/07/2018 - 12:12 PM

Pemanfaatan Pupuk Hayati Mikoriza

Di Publish Pada : 28/09/2017 | Kategori : OPT

Surabaya - Mikoriza yang biasa dikenal dengan Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA) adalah salah satu pupuk hayati yang potensial untuk dikembangkan terutama dilahan kritis karena mempunyai toleransi yang tinggi terhadap kekeringan dan mampu meningkatkan penyerapan unsur hara tanaman khususnya fosfor dan air. Selain itu MVA juga diketahui mempunyai toleransi ketahanan terhadap serangan patogen akar.

Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai, tidak menyebabkan pencemaran lingkungan dan pada penggunaan MVA yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Apabila MVA telah berkembang dengan baik di suatu lahan, maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Mikoriza juga membantu tanaman beradaptasi pada pH yang rendah.

MVA mempunyai sifat mutualistis, banyak inang, multi infeksi dan inokulum dapat berasal dari spora, potongan akar dan hifa.

MVA membuat tanaman lebih tahan terhadap kekeringan karena rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen. Setelah periode kekurangan air (water stress), akar akan cepat kembali normal. Hal ini disebabkan karena hifa MVA mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil juga meningkat.

Tanaman dengan pupuk MVA akan tumbuh lebih baik karena mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Selain itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman.

Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Infeksi patogen akar akan terhambat, mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya, sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Dilain pihak, mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen.

Cara sederhana mendapatkan MVA dari tanah adalah dengan mengambil tanah di sekitar perakaran yang diperkirakan telah berasosiasi dengan MVA, tambahkan dengan air dan kemudian saring secara bertingkat. Spora yang didapat kemudian dikumpulkan sebagai bahan/ sumber inokulum.

Cara memperbanyak MVA adalah dengan cara menginokulasi 10-20 spora MVA disekitar perakaran tanaman jagung berumur sekitar 2 minggu yang ditanam didalam polybag dengan media pasir. Pelihara tanaman jagung sampai berumur 90-100 hari di bawah terik sinar matahari. Selanjutnya spora dapat dipanen bersama dengan hifa, akar dan media pasir tersebut yang disebut dengan propagul.

Pada tahun 2008 Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBP2TP) Surabaya dan BBP2TP Medan melakukan kegiatan pemanfaatan pupuk MVA untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan bibit tanaman perkebunan (kakao, kopi dan cengkeh) pada masa vegetatif dengan hasil yang signifikan.

Di lapangan Penggunaan MVA untuk bibit adalah 15-20 gram propagul/bibit, sedangkan untuk tanaman dewasa 50-100 gram propagul /tanaman.


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 35
Total pengunjung : 6260

Polling

Survey kepuasan website edit

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Harsono RM No.3, Gedung C Lantai 5, Ragunan - Jakarta Selatan 12550 - Indonesia
Telp. : (021) 7815684 Fax : (021) 7815684. Email : perlinbun@pertanian.go.id