KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN

20/06/2018 - 02:25 PM

Trichoderma sp. Produk Unggulan Kalimantan Tengah

Di Publish Pada : 05/10/2017 | Kategori : OPT

Palangkaraya-Trichoderma sp merupakan salah satu unggulan dari  Balai Perlindungan Perkebunan dan Pengawasan Benih (BP3B) Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah. Trichoderma sp produk dari Balai ini mempunyai keunggulan yang salah satunya adalah jumlah spora yang dikandungnya.  

”Pengusaha perkebunan swasta di Kalimantan Tengah khususnya perkebunan kelapa sawit sudah mempercayakan produk ini untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang dan busuk pucuk pada tanaman kelapa sawit (TBM), karena telah membuktikan hasilnya”, kata Ir. Herter, Kepala Balai.  ” Tanaman kelapa sawit yang terserang penyakit  ini telah pulih kembali setelah 2-3 bulan aplikasi dengan telah keluarnya pelepah baru yang sehat”, tambahnya lagi. 

”Apabila  produk sejenis hanya mengandung 106 spora/gram, untuk produk Kalimantan Tengah mampu memproduksi Trichoderma koningii dengan jumlah spora 109  per gram untuk media aplikasi dan  1012  spora/gram untuk starter”, ujar Petugas Laboratorium yang menangani perbanyakan jamur ini.

Pada saat ini harga Trichoderma sp  sesuai dengan SK Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah adalah Rp. 18.500,-  per 1 kg media aplikasi, untuk starter Rp. 75.000,- per kg  dengan  bahan dasar serbuk, beras dan dedak. Sedangkan biakan murni  dengan media agar Rp. 75.000,- per botol. Bagi yang memerlukan bisa menghubungi Balai Perlindungan Perkebunan dan Pengawasan Benih (BP3B) Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah,Jl. Tjilik Riwut Km 7 Palangkaraya - Kalimantan Tengah, kontak person: H. Ahmad Riyadi SP, hp: 81349174494.

Potensi jamur Trichoderma sp. sebagai agensia pengendali hayati sudah banyak diketahui.  Beberapa penyakit tanaman sudah dapat dikendalikan dengan aplikasi jamur Trichoderma,sp. Diantaranya adalah busuk pangkal batang pada tanaman lada, Jamur Akar Putih (JAP) yang menyerang tanaman karet, Ganoderma sp pada tanaman kelapa sawit dan beberapa penyakit terbawa tanah (soil borne) lainnya.

Jamur Trichoderma sp. sebagai jamur antagonis yang bersifat preventif terhadap serangan penyakit tanaman telah menjadikan jamur tersebut semakin luas digunakan oleh petani dan pengusaha perkebunan dalam usaha pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), karena dapat menekan biaya pengendalian dan perawatan tanaman sakit menjadi sepertiga dari biaya pengobatan secara kimia.

Setelah harga bahan kimia melambung tinggi baru dirasakan bahwa pengendalian dengan fungisida kimia semakin mahal, disamping program pelestarian lingkungan turut membatasi penyebaran dan pengurangan penggunaan bahan kimia. Dengan demikian, metode pengendalian secara biologis dengan pemanfaatan Trichoderma sp. sebagai musuh alami dipadukan dengan peningkatan tehnik budidaya merupakan alternatif yang tepat untuk mengendalikan beberapa penyakit penting perkebunan.

Keuntungan lainnya adalah aplikasinya mudah, murah dan efek perlakuan bersifat laten serta tidak menimbulkan keracunan atau pencemaran lingkungan. Trichoderma sp. juga dapat bertahan lama dan berkembang padabahan organik tanah sebagai media tempat hidupnya.

Prinsip kerja Trichoderma sp. adalah pemangsaan miselium dan rizomorfa. serta kompetisi ruang dan makanan.  Mekanisme penghancuran jamur patogen terjadi melalui proses lisis miselium, rizomorfa dan mekanisme antibiosis oleh Trichoderma sp. Lisis merupakan proses enzimatik oleh enzim selulosa yang dihasilkan Trichoderma sp. sebagai bagian dari mekanisme pemangsaan.  Sedangkan kompetisi ruang dan makanan juga tak kalah penting karena pertumbuhan yang relatif cepat dari jamur Trichoderma sp. di bandingkan dengan pertumbuhan jamur patogen lainnya.

Dosis pemakaian Trichoderma sp. tergantung pada besarnya kecilnya pohon yang akan dikendalikan. Untuk pengendalian tanaman sakit berumur kurang dari dua tahun cukup diberikan 50 gram per pohon; umur 2-4 tahun 100 gram per pohon; dan untuk tanaman berumur empat tahun atau lebih (TM) 150-200 gram per pohon.

Apabila digunakan sebagai tindakan preventif, dapat diberikan 50-100 gram per pohon untuk TBM atau 25 gram per polibag atau 50 gram per lubang tanam pada saat penanaman. Perlakuan kombinasi dengan serbuk belerang hanya diberikan apabila pH tanah lebih dari 6 (pH > 6).

Ayo siapa lagi yang akan mencoba ………!!!

 

Oleh : Retno B Setyaningsih


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 29
Total pengunjung : 5109

Polling

Survey kepuasan website edit

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Harsono RM No.3, Gedung C Lantai 5, Ragunan - Jakarta Selatan 12550 - Indonesia
Telp. : (021) 7815684 Fax : (021) 7815684. Email : perlinbun@pertanian.go.id